Apakah Produk Apple Kemahalan?

Produk Apple Kemahalan? Cerita “Me and My Mac”

Apakah memang produk Apple kemahalan atau overpriced? Pernyataan bahwa produk-produk Apple itu kemahalan sebenarnya merupakan pernyataan klasik. Tidak sedikit yang beranggapan dan menilai bahwa produk Apple kemahalan. 
 
Apa yang menjadi parameter penilaian bahwa sebuah produk itu termasuk overpriced? Ya, bisa jadi setiap orang mempunyai parameter yang berbeda dalam hal ‘kemahalan’ ini. Dari perbandingan penilaian spesifikasi, build quality, desain dan lain sebagainya.
 
Saya memilik Macbook Air (MBA) keluaran mid 2012, di tahun 2020 ini kemungkinan tidak akan mendapat update OS ke macOS 11. Latest macOS terinstal saat ini adalah versi 10.15.6 dan sepertinya akan menjadi mac OS terakhir untuk Macbook Air ini. Waktu release di tahun 2012, MBA ini dibandrol di harga USD 1,200 dengan kurs rata-rata tahun tersebut adalah Rp. 9,300 per USD 1.
 
Saya juga pernah memiliki dan menggunakan iPhone, juga iPad. Menurut saya produk iPhone dan iPad ini termasuk produk yang overpriced, alias kemahalan. Kanapa?
 
Karena, IMHO, iPhone dan juga iPad yang saya gunakan selain untuk berkomunikasi tapi juga untuk keperluan mendukung produktitas keseharian dan dalam bekerja, saya merasa dengan Android device pun sudah dapat terpenuhi dengan baik.
 
Selain itu juga Android ini memiliki line of products yang lebih bervariasi dari sisi harga, model dan kualitas.
 
Aplikasi yang saya perlukan pun tidak memaksa saya harus bergantung kepada iOS atau iPadOS, termasuk urusan singkornisasi data dengan laptop Mac yang saya miliki. Buat (keperluan) saya, Android yang saya gunakan tidak ada kendala dalam mendukung produktifitas pribadi saya tadi.
 
Yes, ini penilaian subjektif. Untuk produk iPhone dan iPad saya sependapat dengan mereka yang menilai produk Apple kemahalan.
 
Ada kawan saya, seorang ilustrator, beralih dari tablet Andoid ke iPad Pro dan merasa iPad Pro ini tidak overpriced. Karena menurut dia, dia tidak atau belum menemukan subtitusi lain lagi yang bisa mengalahkan iPad Pro ini sebagai alat yang menunjang dia untuk berkarya, yang sesuai dengan cara dia bekerja dan menghasilkan income.
 
Jadi ini berbeda dengan pandangan saya dan pendapat diapun tidak bisa dikatakan salah.
 
Lalu bagaimana dengan laptop Mac?
 
Di sini saya punya pendapat yang berbeda, pertimbangan atau parameter yang berbeda.
 
Entah kenapa, workflow saya dalam berkomputer untuk kegiatan sehari-hari dan juga mengerjakan pekerjaan, sepertinya macOS ini sangat cocok buat saya daripada Windows OS.
 
Kemampuan OS-nya dan aplikasi-aplikasinya, seperti: Pages, Numbers, Keynote, Safari, dan aplikasi-aplikasi ‘Mac only’ lainnya, saya tidak menemukan atau tidak cocok (kalaupun ada) subtitusinya di OS lain. Selalu kembali ke Mac.
 
Dari sisi kemampuan hardware pun demikian. Saya termasuk yang ‘jorok’ dalam soal penggunaan laptop dalam artian sejak pakai Mac PowerBook G3 saya lebih suka laptop itu tidak pernah dimatikan.
 
Kalau mau dibawa-bawa tinggal tutup lid-nya, dan kalau mau dipergunakan tinggal buka lid-nya tanpa harus booting komputer lagi dan saya pun bisa segera mendapatkan kondisi layar seperti sebelum saya tutup. Dalam hitungan 1-2 detik saya sudah bisa melanjutkan pekerjaan di Mac.
 
Kualitas layar, keyboard (bahkan di Mac keluaran tahun-tahun yang lebih baru ini, yang banyak dikomplain soal feel dan kualitasnya), build quality keselurahan dari Mac yang pernah saya miliki bisa dikatakan tidak mengecewakan buat saya.
 
Tentunya tidak semua produk yang dimiliki brand ternama sekalipun selalu sempurna. Bisa saja untuk produk keluaran tahun tertentu atau model tertentu terdapat cacat produk. Bahkan bisa saja si brand tersebut mengeluarkan model produk baru yang ternyata tidak laku di pasaran atau bisa disebut produk gagal, apapun penyebabnya. Ya, sebesar nama Apple, Google dan Microsoft pun tidak selalu membuat produk yang berkualitas sempurna.
 
MBA mid 2012 yang saya miliki ini, dalam usianya yang sudah 8 tahun saat ini, dari sisi performance tidak pernah mengecewakan. Bahkan sampai saat ini dengan macOS versi terakhir pun laptop ini masih ‘ngacir’.
 
Aplikasi seperti aplikasi untuk design grafis dan aplikasi video editing versi teranyar pun untuk pekerjaan ringan-sedang masih berjalan sangat lancar tanpa kendala.
 
Hmmm, tidak perlu ditanyakan bagaiamana dengan menjalankan game-game terbaru tahun 2020, yah. Ini laptop tahun 2012, Bung! Dan MBA ini bukan line-up laptop gaming. Minecraft versi teranyar jalan lancar sih, tapi di FPS 25 an. Jiahahaha…
 
Agak sedikit kecewa juga MBA ini tidak bisa upgrade ke macOS 11 nanti. Padahal menurut saya ‘umurnya’ masih bisa panjang.
 
Ini mungkin terkait keterbatasan hardware Mac lawas dan juga macOS 11 yang menjadi OS transisi dari Mac dengan Intel based processor ke Apple Silicon (ARM based) processor. Atau memang strategi dari Apple biar pengguna Mac lawas yang sudah tidak bisa update lagi segera ganti ke Macbook yang baru nanti. Bisa jadi.
 
Btw, setelah 8 tahun berlalu, saat ini harga 2nd MBA mid 2012 ada di kisaran 4,7jt – 6,5jt, tergantung kondisi. Saya tidak tahu dengan laptop brand lain keluaran tahun yang sama dengan harga yang serupa saat release bagaimana perbandinganya dengan MBA ini saat ini.
 
Tahun lalu saya meminang Macbook lain yang ukuranya lebih kecil dan tahun yang lebih baru, ini pun bukan karena ingin gaya atau ingin terkesan up-to-date tapi kerena memang keperluan (dan keingian) agar delam berkegiatan sehari-hari bisa membawa laptop yang lebih mungil, ringan, ringkas bisa masuk sling bag kecil, tapi cukup poweful. Beban hidup sudah cukup berat, janganlah ditambah dengan beban laptop yang berat di bahu. Hehehe…
 
Semula sempat berpikiran untuk meminang iPad kembali karena dari ukuran pun hampir sama. Tetapi sampai saat ini iPadOS belum bisa memenuhi keperluan saya sebagai alternative dari macOS, termasuk untuk aplikasi-aplikasi yang saya perlukan dalam mendukung perkejaan.
 
Selain hal di atas, alasan kenapa saya berpendapat laptop Mac ini tidak termasuk produk yang kemahalan atau overpriced (setidaknya dari Mac yang saya miliki) adalah karena Mac ini, sebagai alat bantu pekerjaan, sudah menghasilkan income yang jumlahnya sangat jauh dari harganya. Apalagi bila ditotal selama 7-8 tahun. Dan sampai sekarang masih berjalan, berfungsi baik dan masih dapat menghasilkan.
 
Well, sebagus apapun saya bilang soal laptop Mac, belum tentu cocok untuk orang lain!
 
Sudah sering saya mendapat pertanyaan “Susah gak sih pakai Mac?” atau “Bagus gak sih Mac itu daripada PC? (komputer/laptop Windows maksudnya)”
 
Saya selalu jawab: “Tergantung…”
 
Bila Anda hard gamer, atau pendekar spreadsheet (Excel) dengan formula yang kompleks, atau di kantor tempat kerja Anda mengharuskan Anda terhubung dengan system kantor berbasis Windows, atau aplikasi-aplikasi pekerjaan yang Anda gunakan tidak ada di Mac termasuk subtitusinya, gak usah maksa apalagi maksa pengen gaya pake produk Apple!
 
Dan saya selalu bilang: “Pakai Windows saja, itu sepertinya yang terbaik.”.
 
Mau pakai laptop Windows yang termahal pun asal sanggup ya gak apa-apa, dan apalagi kalau bisa menghasilkan income yang besar, lebih sip banget itu dan saya pikir tidak akan overpriced sebagai alat yang juga investasi untuk mendukung produktifitas kita.
 
Cukup saya saja yang pakai Mac. Hehehe…
 
Jadi, apakah produk Apple kemahalan? Silakan share pendapatnya di kolom komentar, yah.
 
Cheers!!!
 
 
Sharing is love...
Scroll to top