Sebuah Kejujuran

7 March 2008
By Sakti

Ada seorang bapak yang meminta anaknya untuk menunggui mobil yang sedang dalam perbaikan/perawatan rutin di bengkel. Sang bapak berpesan agar sang anak menjemputnya di kantor setelah mobil selesai. Biasanya memang baru selesai sore hari seiring dengan waktu pulang kantor.

Ternyata pada hari tersebut bengkel mobil sedang tidak banyak pengunjung. Walhasil setelah makan siang mobilpun sudah siap untuk dibawa pulang. Sang anak berpikir, lebih baik dia mampir ke tempat teman-temannya sementara menunggu waktu pulang kantor sang bapak.

Tak terasa waktu berlalu dan karena keasyikan berbincang dan bersenda gurau dengan teman-temannya sang anak lupa harus menjemput bapaknya.

Beberapa saat berlalu, matahari sudah mulai terbenam. Dengan terburu-buru sang anak melaju ke arah kantor. Di hatinya dia menyesali, kenapa dia bisa sampai lupa waktu dan akhirnya terlambat menjemput sang bapak. Di benaknya tergambar sang bapak akan marah karena kejadian ini, apalagi bila tahu alasan keterlambatan ini.

Sesampai di kantor, sang anak mendapatkan sang bapak sedang berdiri menunggu seorang diri diluar kantor yang telah terkunci.

Dengan perasaan tidak enak sang anak mendekati bapaknya, lalu sang bapak bertanya, “Dari mana kamu nak? kok terlambat jemput bapak?”

Dengan mencoba memasang muka lelah sang anak menjawab, “Itu pak, mmm… baru beres barusan mobilnya… perbaikannya lama tadi…”. Sang anak mencoba mencari-cari alasan agar sang bapak tidak marah.

Mendengar jawaban sang anak, muka sang bapak mendadak diliputi kesedihan dan tidak disadari menetes air dari kedua matanya. Lalu berkatalah sang bapak, “pulang lah kamu, biar bapak pulang berjalan kaki,” sambil melangkah pergi meninggalkan sang anak.

Terkejut melihat reaksi dan mendengar kata-kata sang bapak, sang anakpun panik membujuk sang bapak agar pulang dengan mengendarai mobil, apalagi hari sudah mulai gelap dan rumah pun masih berkilo-kilo jaraknya.

“Bapak kenapa sih? Ayo pulang bareng-bareng pak,” bujuk sang anak.

“Kenapa kamu harus berbohong?” jawab singkat sang bapak.

Pertanyaan sang bapak membuat sang anak tertegun. Rupanya sebelum pulang kantor sang ayah sempat menelepon bengkel untuk menanyakan kondisi mobilnya.

Pertanyaan itu terus mengisi benak sang anak sementara dia mengendarai mobil perlahan dibelakang sang bapak yang sedang berjalan kaki menuju rumah. Sang anak tidak berani mendahului meninggalkan sang ayah.

Dibalik kemudi mobil yang juga lampu-lampunya menerangi jalan sang bapak didepannya, sang anak kembali membujuk, “Pak, maafkan saya. Ayo masuk ke mobil. Kenapa bapak seperti ini sih?”

Sang bapak menjawab, “Biarkan bapak jalan, agar punya banyak waktu untuk berpikir. Untuk masalah yang kecil seperti ini kamu sudah berbohong… Apa yang salah bapak ajarkan dan mendidik kamu nak… Bapak telah gagal… Kebohongan sudah tertanam di dirimu… Ya Tuhan, maafkan aku…”

Cerita diatas sebenarnya hanya rekaan dari ingatan lama di otak ini terhadap cerita yang sesungguhnya, yang waktu itu saya dengar dari sebuah siaran radio dan pengakuan naratornya cerita itu merupakan kisah nyata.

Sebuah kejujuran, mudah mudahan bukan menjadi sebuah barang yang langka pada zaman sekarang ini. Setidaknya untuk permulaan, cobalah selalu belajar untuk jujur terhadap diri sendiri.

Memang tidak mudah untuk selalu menjaga kejujuran, dan lebih sulit lagi untuk memahami kapan kejujuran itu harus ada dan kapan tidak.

  • Share/Bookmark

Related Posts

Tags: , , , ,

6 Responses to “ Sebuah Kejujuran ”

  1. devari on 7 March 2008 at 23:27

    waa terima kasih nih postingannya, bagus buat introspeksi diri saya sendiri. jadi mikir/flash back.

    devari’s last blog post..Perayaan Nyepi di Karibia

  2. Eep on 8 March 2008 at 06:48

    oh my..
    pelajaran yang sangat berharga ..
    nice post bro..

    Eep’s last blog post..Mulai Dari Hal-Hal Kecil

  3. Febra on 10 March 2008 at 01:47

    yups..kejujuran memang sangat penting..apalagi dizaman sekarang ini, susah euy mendapatkan sebuah kejujuran ;)

    thx mas sakti..nice post :cool:

    Febra’s last blog post..Iseng Lagi..

  4. pink on 10 March 2008 at 06:03

    kejujuran emang sulit banget di temukan pada jaman ini. tapi paling enggak masih ada beberapa orang yang masih mempertahankan kejujuran. semoga aja kejujuran itu bisa berkembang biak *emangnya bisa yah? geblek.

    pink’s last blog post..So Sweeet?

  5. S a k t i on 10 March 2008 at 07:01

    @devari: sama-sama sob… saya juga masih perlu banyak -banyak introspeksi diri inih… :D

    @eep: nuhun kang… :)

    @febra: thank u sob… btw, termasuk kejujuran kasus iklan macbook ituh yah sob? hehehe… mudah-mudahan tuh orang baca tulisan ini :D

    @pink: hehehe.. kejujuran bisa berkembang biak kok… cuma zaman sekarang udah susah atau mungkin udah gak ada yang terpanggil untuk jadi ‘peternaknya’…

  6. -=«GoenRock®»=- on 10 March 2008 at 10:59

    Nice thought! :x Teruskan lagi bikin ceritanya..

    -=«GoenRock®»=-’s last blog post..My TV is Sux Sick

Leave a Reply

Recent Posts

    Peraturan Tentang Konten Multimedia
    Feb 13, 2010
    Beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar mengenai rancangan Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Tentang Konten Multimedia. ...

    2010
    Jan 1, 2010
    Malam pergantian tahun nonton kembang api dari dataran tinggi Semarang, melihat hampir semua kembang api yang menyala dari arah kota. ...

    Dear friend,
    Dec 22, 2009
    If I know your weaknesses, I will show you your strengths... When I feel your fears, I will fortify your faith... When I see your anxieties, I will free your spirit. ...

Leave me a message

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog
Indonesia
PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia
blog-indonesia.com