Tarif Komunikasi
Ini sambil browsing dari hape,tadi buka-buka halaman muka detik.com terbaca download size sebesar 86kb pakai Opera Mini. Jadi terlintas tentang tarif GPRS.
Kalau tarif per-kilobyte download adalah Rp. 10, berarti untuk halaman muka detik.com saja pulsa sudah terpakai Rp. 860. Kalau Rp. 5 ya berarti setengahnya. Hmmm, mahal yah?
Biaya komunikasi di Indonesia masih termasuk mahal. Tarif sms yang rata-rata Rp. 350 ternyata ‘biaya produksi’-nya hanya Rp. 78. Wow, margin profit yang menarik bukan?
Masalah kartel tarif ini katanya sedang diselidiki oleh regulator. Nah, bagaimana dengan tarif untuk pembicaraan (voice)?
Katanya dengan teknologi yang ada (salah satunya VoIP) tarif voice ini seharusnya bisa diturunkan sampai 90%. Weleh…
Bagaimana dengan GPRS atau akses internet?
Bandingkan tarif bandwidth dengan negara tetangga. AFAIK, di Indonesia, provider internet mau menurunkan bandwidth dari luar negeri saja harus ada ijin berlabuh, pajak ini pajak itu. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk infrastruktur.
Bagaimana dengan Indosat dan Telkom yang jelas-jelas memegang kuasa akses komunikasi dan infrastruktur sudah tersedia? apa tarif komunikasi sekarang ini over price? Rekayasa margin yang tidak wajar (baca: rakus)?
Alasan-alasan seperti profit digunakan untuk kepentingan investasi dan biaya pemeliharaan yang tinggi pasti akan muncul sebagai pembelaan.
Ya mungkin sekarang pemerintah sebagai regulator harus mulai menyikapi masalah tarif komunikasi ini. Saat ini, bukan hanya untuk kalangan usaha/bisnis saja komunikasi ini bagaikan beras yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.





yg mengherankan di Indonesia kan banyak operator komunikasi, kenapa ya masih sangat kurang keberpihakan terhada konsumen. logikanya kan semakin banyak, operator2 itu bersaing dan konsumenlah yg nantinya beruntung, karena operato2 itu berlomba2 untuk yg terbaik
devari’s last blog post..Selamat Datang di Devari.org