Kritik Dibalik Komentar Blog
Awalnya sedikit terkejut juga membaca tulisan Adinoto di blognya yang berjudul ‘Jawaban Untuk Bapak Budi Rahardjo‘, hmm.. Ada apa ini?
Akhirnya dilanjutkan dengan membaca tulisan Budi Rahardjo yang berjudul ‘To Adinoto dan Eep‘ dan pagi ini membaca tulisan ‘Bola Liar “To Adinoto dan Eep”‘ di blog-nya kang Eep.
Karena tidak mengikuti dari awal saya hanya bisa mengamati dan mencoba mencerna ‘ada apa, kenapa dan bagaimana’. *Halah… sok jadi pengamat je. Silahkan baca sendiri deh*
Kejadian diatas saya simpulkan (hitung-hitung pelajaran untuk diri sendiri):
- ‘Kata-kata’, hal yang dapat memiliki makna berbeda, dapat berbeda pengertiannya. Sudut pandang orang yang membaca sangat menentukan. Sekedar tulisan “mati kamu” ini bisa memiliki beberapa arti dan beberapa maksud. Berhati-hatilah saat berkata-kata.
- Kritik, IMHO tidak ada yang namanya kritik membangun. ‘Membangun’ atau tidak ‘membangun’ hanya bisa dilihat dari efek setelah kritik itu dikeluarkan. Mendengar kata kritik di otak saya ini kok terasa nilai dan sifat negatif-nya terkesan lebih besar. Saya lebih menyukai dengan istilah memberi nasihat, masukan atau saran, tentu dengan cara yang selayaknya. Bila sebaliknya lebih baik langsung dikatakan sebuah sindiran, cemoohan atau sekalian saja caci maki. Kritik membangun, terkadang hanya sebagai kamuflase dan sarana berlindung dari kritik pedas yang lancarkan apapun maksud dan tujuan dari kritik tersebut agar kritik pedas tersebut tidak dipermasalahkan (baca: dianggap negatif).
- Susah berurusan dengan orang yang tidak mau dikritik. Apalagi dengan orang yang senang/suka mengkritik tapi tidak mau/bisa menerima kritikan.
- Blog yang memang memiliki tema atau konsep, misalkan blog dengan tema/bahasan tentang IT kalau tiba-tiba malah banyak tulisan yang membahas gosip artis dan seleb lainnya diluar konteks IT itu sendiri ya tentu akan mendapat reaksi dari para pembaca. Blog pribadi menurut saya adalah ‘rumah’. Kemerdekaan menulis blog, mau dibuat seperti apapun blog tersebut, itu adalah hak yang punya. Mau nulis tetang IT, sex, tulisan (yang katanya) ‘gak mutu™’ sampai ke masalah pencalonan diri sebagai walikota juga gak apa-apa. Yang memberi komentar, selama fasilitas komentar itu terbuka untuk umum, orang mau komentar yang positif, negatif mau komentar spam ya bebas-bebas saja. Untuk mengatasi masalah komentar ya bisa-bisanya yang punya ‘rumah’ saja.
Apa lagi yah? Masih banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian 3 manusia hebat diatas tadi. Sayang saya tidak mampu menuangkan semua.
Hal yang terpenting, dari kejadian diatas telah membuktikan bahwa pernyataan “There are two things people want more than sex and money: recognition and praise” memang benar adanya. So guys, be civil to all, sociable to many, familiar with few, friend to one, enemy to none…







betul… kata yang lebih pas adalah nasihat..
masalahnya kalau nasihat, apakah saya pantas menasihati orang yang lebih tua..? kalau untuk yang lebih tua mungkin yang pas asalah memberikan pendapat..
hehehe
Eep’s last blog post..Keluarkan Blogs Milik Budi Rahardjo dari Planet Terasi?
pernyataan yg bagus mas sakti
betewe, memang males euy berhubungan dg org yg ga mau dikritik tapi sukanya mengkritik..lindas aja waakakaakak =))
*peace to all
Febra’s last blog post..IKLAN GOKIL
memang susah…beginilah akibat 32 tahun kepemimpinan dg mental tuanku raja
devari’s last blog post..Antibiotika tanpa Resep Dokter
kekekeke… nah ini pertanyaan yang mantab.
)
Apa pantas orang yang muda menasehati orang yang lebih tua?
Apa pantas orang yang muda memimpin orang yang lebih tua?
*gak fokus* wakakakakkakakakak
Hehehe.. mudah-mudahan urusan cepet selesai deh kang Eep.